Menteri Gagal yang Siap Ditembak Mati: Ide Revolusioner yang Ditolak Soekarno!

Menteri Gagal yang Siap Ditembak Mati: Ide Revolusioner yang Ditolak Soekarno!

Haluannews Ekonomi – Sejarah politik dan ekonomi Indonesia mencatat banyak nama yang digadang-gadang menduduki kursi menteri, namun tak ada yang seberani Hadeli Hasibuan. Pengacara berdarah Batak ini pernah membuat tawaran ekstrem yang menggemparkan: siap ditembak mati jika gagal memulihkan kondisi ekonomi Indonesia di tengah krisis parah pada pertengahan 1960-an. Kisahnya adalah potret keberanian yang tak tertandingi dalam kancah politik ekonomi bangsa.

COLLABMEDIANET

Pertengahan dekade 1960-an merupakan periode kelam bagi perekonomian Indonesia. Pasca-peristiwa Gerakan 30 September 1965, inflasi merajalela, harga bahan pokok melonjak hingga ratusan persen, dan harga bensin pun naik tajam dari Rp400 menjadi Rp1.000 per liter. Kondisi ini membuat rakyat tercekik, diperparah oleh situasi politik yang sangat tidak stabil. Menanggapi krisis yang mencekik ini, Presiden Soekarno, dalam pidatonya pada 15 Januari 1966, mengumumkan sayembara terbuka untuk mencari "Menteri Penurunan Harga." Taruhannya tak main-main: jika berhasil menurunkan harga dalam waktu tiga bulan (hingga 15 April 1966), ia akan diangkat menjadi menteri; jika ekonomi memburuk, ia akan ditembak mati; dan jika keadaan tetap sama, ia akan dipenjara selama 10 tahun.

Menteri Gagal yang Siap Ditembak Mati: Ide Revolusioner yang Ditolak Soekarno!
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Di titik inilah nama Hadeli Hasibuan, seorang pengacara, mencuat ke permukaan. Ia memberanikan diri menyahut tantangan maut tersebut. Melalui surat yang dikirim langsung ke Istana Merdeka, Hadeli menyatakan kesediaannya. Tak lama kemudian, pada 2 Februari 1966, Hadeli dipanggil ke Istana dan disambut langsung oleh Wakil Perdana Menteri Johannes Leimena. Dengan keyakinan penuh, Hadeli menegaskan kesiapannya untuk ditembak mati jika pelaksanaan konsepnya gagal dalam waktu tiga bulan, seperti yang ia tulis dalam autobiografinya, Pengalamanku sebagai Calon Menteri Penurunan Harga (1985).

Kepada wartawan, Hadeli kemudian membeberkan ide-ide ekonominya yang terbilang revolusioner untuk zamannya. Ia mengusulkan langkah-langkah liberalisasi ekonomi, efisiensi anggaran dengan menghentikan atau memperkecil pembangunan yang kurang mendesak, peralihan pengelolaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kepada tenaga ahli, serta membuka ruang lebar bagi sektor swasta. "Untuk menurunkan harga-harga barang, ya serahkan saja ke swasta. Walaupun pemerintah tidak punya devisa, swasta banyak punya devisa," ungkap Hadeli kepada koran Berita Yudha (3 Februari 1966). Ia juga secara tegas menolak gagasan ekonomi berdikari (berdiri di atas kaki sendiri) ala Soekarno, berargumen bahwa pada taraf tersebut, hanya Amerika Serikat dan Uni Soviet yang mampu mandiri, sementara Indonesia masih sangat membutuhkan industri yang belum dapat dibuat sendiri. Lebih jauh, ia juga berencana mendorong Indonesia kembali bergabung dengan PBB, menghentikan konfrontasi dengan Malaysia, memangkas jumlah menteri, serta memanggil kembali ekonom Sumitro Djojohadikusumo yang kala itu hidup di pengasingan.

Namun, ide-ide visioner Hadeli tersebut justru ditolak mentah-mentah. Leimena bahkan sempat menganggap gagasannya "gila" dan tidak masuk akal. Setelah dilaporkan kepada Soekarno, keputusan final pun keluar: konsep Hadeli tidak dapat diterima. Alasannya jelas, gagasan tersebut bertentangan dengan kebijakan politik Soekarno yang sangat anti-liberalisasi. Meskipun gagal menjadi menteri, nama Hadeli terlanjur menjadi sorotan publik. Berita mengenai dirinya dan gagasan ekonominya ramai menghiasi surat kabar, menjadikannya terkenal. Ironisnya, waktu kemudian membuktikan bahwa Soekarno memang tak sanggup mengatasi krisis. Kekuasaan akhirnya beralih ke Jenderal Soeharto, yang resmi menjadi Presiden ke-2 RI pada tahun 1968. Melalui tangan para ekonom yang kelak dijuluki "Mafia Berkeley," Soeharto berhasil memperbaiki ekonomi Indonesia dengan cara-cara yang justru sangat selaras dengan gagasan Hadeli.

Hingga hari ini, belum pernah ada lagi calon menteri yang berani mempertaruhkan nyawa demi jabatan dan perbaikan ekonomi bangsa. Dalam sejarah Indonesia, Hadeli Hasibuan tetap tercatat sebagai satu-satunya sosok yang rela pasang badan dengan taruhan hidup dan mati demi menyelamatkan perekonomian negara.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar