Marbot Masjid Raih Rp 1 Miliar! Kisah Ajaib di Era Soeharto

Marbot Masjid Raih Rp 1 Miliar! Kisah Ajaib di Era Soeharto

Haluannews Ekonomi – Tahun 1990 menjadi tonggak sejarah bagi Sayat (72), seorang marbot masjid sekaligus tukang becak asal Magelang. Kehidupan sederhana yang dijalani selama puluhan tahun berubah drastis setelah ia memenangkan undian Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah (SDSB) senilai Rp 1 miliar. Kabar kemenangannya diumumkan melalui radio pemerintah pada Rabu, 9 Mei 1990, mengungkapkan angka keberuntungan yang sesuai dengan nomor kupon miliknya. Angka "delapan, empat, sembilan, tiga, tujuh… dan terakhir sembilan!" mengubah nasibnya seketika.

COLLABMEDIANET

Sayat, yang tercatat sebagai salah satu dari enam pemenang SDSB periode ke-14, mengaku kemenangannya sebagai rahmat Tuhan. Di era tersebut, Rp 1 miliar merupakan jumlah yang fantastis. Sebagai gambaran, harga rumah di kawasan elit Pondok Indah saat itu sekitar Rp 80 juta per unit. Dengan demikian, Sayat berpotensi membeli 12 unit rumah mewah. Jika dikonversi dengan harga emas saat ini (Rp 1,9 juta/gram), hadiah Rp 1 miliar tersebut setara dengan Rp 96 miliar saat ini.

Marbot Masjid Raih Rp 1 Miliar! Kisah Ajaib di Era Soeharto
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Kabar mengejutkan ini membuat Sayat dan istrinya bergegas ke Jakarta untuk mengklaim hadiah. Saking terkejutnya, Sayat bahkan sempat pingsan. Dalam wawancara dengan media, ia mengungkapkan rencananya untuk menggunakan uang tersebut; membeli rumah, menyumbangkan Rp 5 juta kepada pedagang asongan, merenovasi masjid tempatnya bekerja, dan menyisihkan sebagian untuk anak cucunya.

Sebelum menjadi miliarder dadakan, kehidupan Sayat didedikasikan untuk mengabdi sebagai marbot masjid. Tugasnya meliputi membersihkan masjid, merawat sajadah, dan memastikan kenyamanan jamaah. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, ia juga bekerja sebagai tukang becak. Latar belakangnya sebagai seorang Sersan Satu yang pernah berjuang di Magelang, tak mampu mengubah kenyataan pahit kemiskinannya selama puluhan tahun.

Keputusan membeli kupon SDSB, yang dijual dengan harga mulai dari Rp 1.000 hingga puluhan ribu, menjadi jalan keluar Sayat untuk keluar dari jeratan kemiskinan. SDSB sendiri merupakan program undian yang diselenggarakan pemerintah pada era Presiden Soeharto, di mana dana dari penjualan kupon digunakan untuk pembangunan. Sayangnya, program ini kini telah dihentikan karena segala bentuk perjudian dilarang pemerintah. Kisah Sayat menjadi bukti nyata sebuah keberuntungan yang tak terduga, sekaligus menandai sebuah era di mana program undian skala besar pernah dijalankan oleh pemerintah.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar