Haluannews Ekonomi – PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) mengumumkan kinerja keuangan yang menantang hingga kuartal III 2025, dengan laba bersih yang terkoreksi tajam 44% secara tahunan menjadi AS$655 juta. Penurunan signifikan ini terjadi di tengah gejolak pasar batu bara termal yang dihantam tekanan harga, pasokan berlimpah, dan pelemahan permintaan musiman. Pernyataan ini disampaikan dalam Public Expose Tahunan AADI di gedung Cyber 2 Jakarta, Senin (22/12).

Related Post
Direktur Keuangan AADI, Lie Lukman, menjelaskan bahwa dinamika pasar batu bara termal di tahun 2025 diwarnai oleh tekanan harga yang signifikan. "Ketersediaan pasokan yang melimpah akibat peningkatan produksi dari negara-negara pengimpor utama, ditambah dengan penurunan permintaan musiman, menjadi faktor utama yang menekan harga komoditas ini," terang Lukman dalam acara tersebut, seperti dikutip Haluannews.id.

Meski demikian, Lukman menegaskan keyakinannya bahwa industri batu bara akan tetap memegang peranan krusial dalam memenuhi kebutuhan sektor energi global dalam jangka panjang. "Batu bara diperkirakan tetap memiliki peran substansial dalam bauran energi global seiring meningkatnya kebutuhan energi yang berkelanjutan," imbuhnya.
Tercatat hingga kuartal III tahun ini, volume penjualan AADI mencapai 52,69 juta ton dengan nisbah kupas (strip ratio) 4.2x. Capaian ini disebut sejalan dengan target penjualan perusahaan untuk tahun 2025 yang dipatok sebesar 65-67 juta ton batu bara, dengan panduan nisbah kupas 4.3x. Pasar penjualan terbesar AADI selama periode ini meliputi Indonesia, diikuti oleh Malaysia, India, dan China. Mayoritas pelanggan perusahaan adalah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan pengguna akhir lainnya.
Dari sisi kinerja finansial, AADI membukukan pendapatan sebesar AS$3.609 juta hingga September 2025. Angka ini menunjukkan kontraksi 11% dibandingkan periode yang sama tahun 2024, utamanya disebabkan oleh penurunan harga batu bara global. Konsekuensinya, laba bersih perusahaan ikut tertekan, anjlok 44% secara tahunan menjadi AS$655 juta.
Untuk belanja modal (Capital Expenditure/Capex), AADI telah merealisasikan AS$243 juta hingga September ini. Dana tersebut dialokasikan untuk investasi strategis pada pembangkit listrik guna menunjang kegiatan industri di Kalimantan Utara, pembelian tongkang, serta sarana pendukung lainnya dalam rantai pasokan perusahaan. Realisasi Capex ini masih dalam koridor panduan perusahaan di awal tahun yang sebesar AS$250-AS$300 juta.
Manajemen AADI menekankan komitmen kuat perusahaan untuk terus menerapkan tata kelola yang baik, disiplin keuangan yang ketat, serta upaya-upaya peningkatan produktivitas dan pengendalian biaya. Langkah-langkah ini menjadi strategi kunci untuk mitigasi risiko di tengah volatilitas pasar yang terus berlanjut.
Editor: Rohman




Tinggalkan komentar