Haluannews Ekonomi – Siapa yang tak kenal Kodak? Puluhan tahun lalu, nama ini identik dengan dunia fotografi. Namun, ironisnya, raksasa ini justru runtuh karena keengganan menerima inovasi teknologi. Kisah jatuhnya Kodak menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana keengganan beradaptasi dapat menghancurkan bisnis sebesar apapun.

Related Post
Jauh sebelum kamera saku populer, fotografi adalah proses rumit yang melibatkan peralatan besar dan bahan kimia. George Eastman, pendiri Kodak, merevolusi industri ini pada 1878 dengan menciptakan kamera yang lebih ringkas dan praktis. Setelah bertahun-tahun riset dan pengembangan, Eastman Dry Plate Company lahir, yang kemudian melahirkan kamera analog Kodak yang ikonik. Keberhasilan ini menjadikan Kodak sebagai pemimpin pasar selama puluhan tahun.

Namun, puncak kejayaan Kodak berakhir di tahun 2013. Kemajuan teknologi digital yang pesat menjadi penyebab utamanya. Parahnya, Kodak sendiri sebenarnya sudah memiliki teknologi kamera digital sejak tahun 1970-an! Insinyur Kodak, Steve Sasson, telah menciptakan prototipe kamera digital. Namun, manajemen Kodak saat itu menolak ide tersebut, menganggapnya memiliki banyak kekurangan seperti proses yang lambat, resolusi rendah, dan ukuran yang besar.
Keputusan ini terbukti fatal. Ketika kamera digital akhirnya mendominasi pasar, Kodak tertinggal jauh dan gagal bersaing. Kesempatan untuk menjadi pelopor dalam era digital hilang begitu saja. Keengganan mengadopsi inovasi internal ini akhirnya menjerumuskan Kodak ke dalam kesulitan finansial yang berujung pada kebangkrutan. Kisah Kodak menjadi bukti nyata betapa pentingnya inovasi dan keberanian mengambil risiko dalam dunia bisnis yang terus berkembang.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar