Haluannews Ekonomi – Bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street, mengakhiri perdagangan Senin (23/3/2026) dengan euforia luar biasa. Indeks-indeks utama melonjak tajam setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan penundaan serangan terhadap fasilitas pembangkit listrik Iran. Keputusan ini, yang disebut Trump sebagai hasil dari "percakapan produktif" dengan Teheran, sontak memicu optimisme di kalangan investor global.

Related Post
Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) memimpin penguatan dengan melesat 1,38% mencapai level 46.208,47. Tak ketinggalan, S&P 500 juga mencatat kenaikan signifikan 1,15% ke posisi 6.581, sementara Nasdaq Composite terbang 1,38% menjadi 21.946,76.

Sebelumnya, Presiden Trump telah memerintahkan penundaan operasi militer terhadap pembangkit listrik Iran, menyusul apa yang ia sebut sebagai diskusi mendalam yang menghasilkan "poin-poin kesepakatan besar" dan potensi penyelesaian konflik dalam waktu dekat. Namun, narasi ini segera dibantah oleh Ketua Parlemen Iran, yang secara tegas menolak klaim Trump mengenai adanya pembicaraan dan kesepakatan antara kedua negara.
Kebangkitan Wall Street ini menjadi angin segar setelah pasar saham Negeri Paman Sam sempat terpuruk parah pada pekan sebelumnya. Sentimen positif dari penundaan serangan Iran berhasil membalikkan arah pasar yang sebelumnya tertekan. Ambruknya pasar saham AS pekan lalu juga turut menyeret harga minyak global ke level yang lebih rendah. Ancaman serangan terhadap jaringan listrik di Israel dan Iran sebelumnya telah memicu kekhawatiran dan menekan harga saham.
Menanggapi situasi ini, Tim Ghriskey, ahli strategi portofolio senior di Ingalls & Snyder di New York, mengungkapkan pandangannya. "Sulit untuk menentukan siapa yang harus dipercaya, namun tampaknya Trump berupaya memulai dialog dengan pihak di Iran untuk mencari solusi konflik, meskipun ada penolakan keras dari Iran. Kondisi ini telah memicu optimisme yang substansial di pasar saham, meskipun pasar bergerak naik dari level tertinggi akibat penolakan Iran," ujarnya, seperti dikutip dari Reuters, Selasa (24/3/2026).
Sementara itu, Indeks Volatilitas CBOE (VIX), yang dikenal sebagai ‘pengukur ketakutan’ Wall Street, menunjukkan penurunan signifikan setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam dua minggu di angka 31,04. Indeks ini kemudian memangkas sebagian kerugiannya dan ditutup turun 0,63 poin pada 26,15. Bob Doll, kepala investasi di Crossmark Global Investments, menegaskan bahwa volatilitas kemungkinan akan terus berlanjut. "Semuanya bergantung pada harga minyak. Tidak ada faktor lain yang benar-benar penting bagi investor dalam jangka pendek. Jadi, ketika harga minyak turun, saham akan naik, dan begitu pula sebaliknya," jelasnya, dilansir dari Haluannews.id.
Di sisi lain, para investor juga mulai mengurangi ekspektasi mereka terhadap kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed). Probabilitas kenaikan suku bunga pada Desember kini berada di kisaran 13%, menurun drastis dari lebih dari 25% pada sesi sebelumnya, berdasarkan data dari perangkat FedWatch CME Group. Para pelaku pasar kini bertaruh sekitar 72% bahwa suku bunga akan tetap stabil hingga akhir tahun, setelah sebelumnya sempat meningkatkan taruhan untuk pemotongan suku bunga pekan lalu menyusul nada hawkish dari The Fed terkait kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi.
Editor: Rohman











Tinggalkan komentar