IHSG Terkapar! Investor Panik Jual Saham?

IHSG Terkapar! Investor Panik Jual Saham?

Haluannews Ekonomi – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan jual yang signifikan pada penutupan sesi pertama perdagangan hari ini, Jumat (23/1/2026), terperosok ke zona merah. Indeks acuan bursa saham Indonesia ini anjlok 1,28% atau setara 115,28 poin, berakhir di level 8.876,9.

COLLABMEDIANET

Aksi jual masif tercermin dari jumlah saham yang mengalami penurunan, mencapai 615 emiten, berbanding jauh dengan hanya 131 saham yang berhasil mencatatkan kenaikan. Sementara itu, 212 saham lainnya stagnan. Total nilai transaksi pada sesi siang ini mencapai Rp 18,31 triliun, dengan volume perdagangan mencapai 38,79 miliar saham dalam 2,07 juta transaksi. Akibatnya, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) menyusut menjadi Rp 16.112 triliun.

IHSG Terkapar! Investor Panik Jual Saham?
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Sejumlah saham menjadi sorotan karena mengalami aksi jual yang besar. PT Petrosea Tbk (PTRO) mencatatkan nilai transaksi mencapai Rp 3,97 triliun, namun harus mengalami koreksi harga hingga 14,395%. Sepanjang sesi pertama, PTRO mencatatkan net sell sebesar Rp 232,6 miliar.

Saham-saham milik konglomerat Prajogo Pangestu menjadi pemberat utama bagi kinerja IHSG. PT Barito Renewables Energy (BREN) menjadi saham yang paling membebani indeks dengan kontribusi negatif sebesar 14,81 indeks poin. BREN sendiri mengalami penurunan sebesar 4,21% ke level Rp 9.100 pada sesi pertama. Selain BREN, saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dan PT Petrosea Tbk (PTRO) juga turut menyeret turun IHSG dengan bobot masing-masing -13,77 dan -9,65 indeks poin. PT Petrindo Jaya Kreasi (CUAN) juga memberikan tekanan sebesar -4,82 indeks poin.

Secara sektoral, sektor utilitas menjadi yang paling tertekan dengan penurunan sebesar 3,82%. Sektor-sektor lain yang juga mengalami penurunan signifikan adalah industri (-2,39%), bahan baku (-2,21%), properti (-2,2%), dan konsumer non-primer (-1,76%).

Sentimen pasar keuangan pada akhir pekan ini masih diwarnai kehati-hatian, dipengaruhi oleh kombinasi faktor geopolitik global, kebijakan perdagangan Amerika Serikat, serta data ketenagakerjaan AS. Selain itu, pasar juga mewaspadai potensi peningkatan risiko arus dana asing keluar (foreign outflow) seiring dengan rencana MSCI untuk menerapkan formula baru dalam perhitungan free float untuk saham-saham di BEI.

Dalam skema terbaru, MSCI tidak hanya mempertimbangkan kepemilikan publik secara administratif, tetapi juga kualitas likuiditas dan aksesibilitas saham di pasar. Saham dengan porsi kepemilikan pengendali yang besar, likuiditas rendah, atau kepemilikan publik yang dinilai kurang tradable berisiko mengalami penurunan free float adjustment factor. Hal ini berpotensi menekan bobot saham Indonesia dalam indeks MSCI dan memicu aksi jual teknikal oleh dana pasif dan ETF global yang mereplikasi indeks MSCI.

Sejumlah analis menilai bahwa tekanan penjualan yang terjadi pada beberapa saham dalam beberapa hari terakhir berkaitan erat dengan rebalancing MSCI edisi Februari mendatang. Pasar cenderung bergerak lebih dulu dengan mengantisipasi skenario terburuk, meskipun aturan baru perhitungan free float belum resmi diberlakukan. Hal ini memicu koreksi harga pada saham-saham yang sebelumnya diperdagangkan dengan valuasi premium berbasis narasi indeks.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar