Haluannews Ekonomi – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan tren negatif pada perdagangan Jumat (23/1/2026). Pada awal sesi, indeks langsung anjlok 1% atau setara 90,29 poin, menyeret IHSG ke level 8.901,89.

Related Post
Aksi jual mendominasi pergerakan pasar dengan 379 saham mengalami penurunan, sementara hanya 177 saham yang berhasil mencatatkan kenaikan. Volume perdagangan tercatat cukup tinggi, mencapai Rp 3,29 triliun dengan melibatkan 6,13 miliar saham dalam 374.000 transaksi.

Saham-saham seperti Bumi Resources (BUMI) menjadi sasaran aksi jual. Saham emiten Grup Bakrie ini mencatatkan nilai transaksi Rp 1,08 triliun dan terkoreksi 3,45% ke level 336. Selain itu, saham Petrosea (PTRO) dan Bank Central Asia (BBCA) juga mengalami tekanan jual masing-masing sebesar 10,44% dan 0,65%.
Sentimen pasar saat ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk dinamika geopolitik, kebijakan perdagangan Amerika Serikat, dan data ketenagakerjaan AS. Kabar baik datang dari penundaan penerapan tarif impor baru AS terhadap delapan negara Eropa, yang semula dijadwalkan berlaku pada 1 Februari 2026.
Keputusan ini diambil setelah adanya kemajuan dalam pembicaraan antara AS dan NATO terkait isu Greenland. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa kerangka kesepakatan telah tercapai, sehingga tarif impor tidak jadi diberlakukan. Negara-negara Eropa yang sebelumnya menjadi target tarif adalah Prancis, Jerman, Inggris, Denmark, Swedia, Norwegia, Belanda, dan Finlandia.
Namun, pasar juga mewaspadai potensi risiko arus dana asing keluar (foreign outflow) jika MSCI menerapkan formula baru dalam perhitungan free float saham-saham di Bursa Efek Indonesia. Formula baru ini akan mempertimbangkan likuiditas dan aksesibilitas saham, sehingga saham dengan kepemilikan terkonsentrasi berisiko mengalami penurunan bobot dalam indeks MSCI.
Penyesuaian bobot ini berpotensi memicu penjualan teknikal oleh dana pasif dan ETF global yang mereplikasi indeks MSCI. Pasar juga mengantisipasi rebalancing MSCI edisi Februari mendatang, sehingga saham-saham yang sebelumnya diperdagangkan dengan valuasi premium mulai mengalami normalisasi harga.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar