IHSG Lesu, Transaksi Sepi! Ada Apa Gerangan?

IHSG Lesu, Transaksi Sepi! Ada Apa Gerangan?

Haluannews Ekonomi – Nilai transaksi di pasar modal Indonesia dalam dua hari perdagangan terakhir menunjukkan penurunan signifikan. Rata-rata nilai transaksi harian selama empat pekan terakhir mencapai Rp 12,2 triliun. Namun, angka tersebut jauh meleset pada perdagangan Senin (7/7/2025), yang hanya mencapai Rp 7,48 triliun, bahkan jauh di bawah angka psikologis Rp 10 triliun. Jumat pekan lalu pun mencatatkan transaksi di bawah Rp 8 triliun. Fenomena ini memicu pertanyaan: apa yang sebenarnya terjadi di balik sepinya transaksi IHSG?

COLLABMEDIANET

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sendiri menunjukkan pergerakan yang cenderung landai beberapa hari terakhir. Namun, pada awal pekan ini, IHSG berhasil ditutup naik 0,52% ke level 6.900 setelah sempat melemah di sesi pertama.

IHSG Lesu, Transaksi Sepi! Ada Apa Gerangan?
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nicodemus, menuturkan beberapa faktor yang menyebabkan pasar saham Indonesia lesu. Ketidakpastian yang tinggi menjelang tanggal 9 Juli, ditambah potensi kenaikan tarif akibat perseteruan antara BRICS dan Trump, membuat investor cenderung selektif dalam memilih saham. "Pelaku pasar mencari saham dengan probabilitas kenaikan harga yang besar," jelasnya kepada Haluannews.id.

Faktor lain yang turut berperan adalah fenomena IPO (Initial Public Offering) yang tengah ramai. Saham-saham IPO dengan fundamental kuat dan potensi valuasi tinggi menarik minat banyak investor, sehingga sebagian dana tersedot ke sana. "Proses antrean pembelian saham IPO, baik yang dana nya ditahan atau di-block H-1 sebelum pemesanan usai, juga turut memengaruhi likuiditas pasar," tambah Nicodemus.

Hal senada disampaikan Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta. Ia menambahkan bahwa pasar mencermati batas waktu tarif 9 Juli 2025 yang semakin dekat, terutama dengan belum adanya kesepakatan perdagangan yang solid. Ancaman pengumuman tarif baru oleh Presiden AS Trump terhadap 12 negara pada Senin (7/7/2025) juga turut menekan pasar. Secara teknikal, Nafan menilai pergerakan IHSG terkonsolidasi dengan indikator yang beragam. "Stochastics KD menunjukkan sinyal negatif, volume menurun, namun RSI sudah oversold," sebutnya.

Namun, proyeksi peningkatan cadangan devisa Indonesia per Juni 2025 diharapkan menjadi katalis positif, mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga stabilitas makroekonomi serta sistem keuangan.

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menambahkan bahwa investor masih cenderung wait and see perkembangan tarif Trump, dengan penundaan yang seharusnya berakhir pada 9 Juli 2025. "Mayoritas indeks regional Asia cenderung range-bound dan tertekan, kecuali Singapura yang diperkirakan diuntungkan dari perang tarif," tutupnya.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar