Haluannews Ekonomi – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam lebih dari 1% di awal perdagangan, mengalami koreksi sebesar 1,07% atau 73,66 poin, hingga menyentuh level 6.833,47. Dari 500-an saham yang diperdagangkan, hanya 64 saham yang menunjukan peningkatan, sementara 279 saham lainnya mengalami penurunan, dan sisanya stagnan. Akibatnya, kapitalisasi pasar pun merosot menjadi Rp 11.996,25 triliun. Penurunan ini berlanjut hingga sesi pertama perdagangan berakhir, IHSG akhirnya ditutup dengan penurunan 1,7%.

Related Post
Anjloknya IHSG mencerminkan sentimen pelaku pasar yang cenderung risk-off atau menghindari risiko. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah pasca serangan Amerika Serikat ke Iran menjadi pemicu utama. Serangan yang menyasar tiga lokasi nuklir di Iran, yaitu Fordow, Natanz, dan Isfahan, menimbulkan kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas. Presiden AS Donald Trump sendiri telah mengklaim serangan tersebut sebagai operasi yang "sangat sukses", menggunakan pesawat pembom B-2.

Situasi semakin diperparah dengan rilis data ekonomi yang memperkuat sikap hawkish The Fed (bank sentral AS). Sikap hawkish ini mengindikasikan kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut, yang berdampak negatif terhadap pasar saham global, termasuk IHSG. Keterlibatan AS dalam konflik Israel-Iran juga meningkatkan potensi meluasnya konflik, menarik perhatian negara-negara besar seperti Rusia, China, dan negara-negara Eropa. Hal ini semakin meningkatkan ketidakpastian dan membuat investor cenderung mengurangi kepemilikan aset berisiko.
Ke depan, pergerakan IHSG akan sangat bergantung pada perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah dan kebijakan moneter The Fed. Investor perlu mencermati perkembangan ini dengan seksama untuk mengantisipasi potensi volatilitas pasar yang lebih tinggi.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar