Haluannews Ekonomi – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mencatatkan rekor tertinggi tahun ini, menembus level psikologis 7.500 pada perdagangan Kamis (24/7/2025). Penguatan ini didorong oleh kinerja impresif saham-saham perbankan raksasa.

Related Post
IHSG ditutup menguat 0,83% atau 61,67 poin ke level 7.530,9. Sebanyak 322 saham mencatatkan kenaikan, sementara 324 saham mengalami penurunan, dan 310 saham stagnan. Total nilai transaksi mencapai Rp 16,28 triliun dengan volume 25,54 miliar saham yang diperdagangkan dalam 1,64 juta transaksi. Kapitalisasi pasar juga mengalami peningkatan menjadi Rp 13.485 triliun.

Sektor finansial menjadi motor utama penggerak IHSG hari ini. Saham SMMA melonjak 20% dan menyentuh batas auto reject atas (ARA), memberikan kontribusi signifikan sebesar 25,13 indeks poin. Selain itu, saham BBRI dan BMRI juga turut memberikan andil dengan kenaikan masing-masing sebesar 3,95% dan 2,56%, menyumbang 24,72 dan 10,5 indeks poin.
Selain sektor finansial, saham ASII yang sebelumnya mengalami koreksi, hari ini juga menjadi salah satu pendorong IHSG dengan kenaikan 2,02% dan kontribusi 4,44 indeks poin.
Secara teknikal, IHSG berhasil menembus resistance di level 7.470, yang kini menjadi level support. Resistance selanjutnya berada di level 7.800.
Meskipun IHSG menunjukkan tren positif dalam beberapa waktu terakhir, dominasi saham konglomerasi perlu menjadi perhatian. Hingga 21 Juli 2025, saham-saham dari grup Prajogo Pangestu mendominasi hingga 48% dari pergerakan IHSG.
Saham CDIA yang baru berusia dua pekan bahkan telah masuk dalam daftar 20 emiten dengan kapitalisasi terbesar. Saat ini, saham CDIA masih dalam status suspensi dan berpotensi diperdagangkan dengan mekanisme full call auction (FCA) jika suspensi dibuka.
Berkaca pada pengalaman saham COIN yang diperdagangkan dengan mekanisme FCA, harga saham tersebut langsung mengalami penurunan. Jika pola serupa terjadi pada CDIA, tekanan terhadap IHSG dapat meningkat.
Selain itu, saham DCII yang sebelumnya menjadi penopang indeks juga masih dalam status suspensi. Jika suspensi dicabut dan aksi ambil untung (profit taking) mulai terjadi, koreksi IHSG dalam waktu dekat menjadi hal yang perlu diantisipasi.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar