Haluannews Ekonomi – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bertahan di level psikologis 7.000 pada penutupan sesi I perdagangan Selasa (3/6/2025), meskipun sempat melemah tipis 0,01% dan menyentuh angka 7.064,21. Pergerakan IHSG ini diwarnai aksi jual beli yang cukup aktif, dengan nilai transaksi mencapai Rp 8,36 triliun yang melibatkan 15,35 miliar saham dalam 737.969 kali transaksi. Meskipun empat sektor, yakni energi (naik 1,03%) dan properti (naik 0,8%), berada di zona hijau, sektor teknologi (-0,86%), utilitas (-0,75%), dan kesehatan (-0,59%) justru menjadi beban.

Related Post
Saham Sinar Mas DSSA menjadi penopang utama IHSG dengan kontribusi 8,93 poin indeks, naik 4,21% pada sesi I. Di sisi lain, DCII menjadi pemberat utama dengan kontribusi -6,38 poin indeks, turun 3,13%. ASII (-3,56 poin) dan BREN (-2,85 poin) juga turut menekan IHSG.

Tekanan terhadap IHSG diperparah oleh aksi jual bersih asing (net foreign sell) yang mencapai Rp 2,81 triliun pada perdagangan Senin (2/6/2025), menambah total net sell asing sepanjang tahun berjalan menjadi Rp 48,01 triliun. Tren negatif IHSG dalam dua hari terakhir juga dipengaruhi oleh data ekonomi Indonesia yang menunjukkan pelemahan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan deflasi 0,37% secara month on month (mom) pada Mei 2025. Kondisi ini berbeda dengan Mei 2021-2023 yang mengalami inflasi akibat momen Lebaran. Lebih lanjut, surplus neraca perdagangan Indonesia pada April 2025 hanya US$ 150 juta, menjadi yang terendah dalam 60 bulan terakhir. Aktivitas manufaktur juga kembali mengalami kontraksi pada Mei 2025, berdasarkan data Purchasing Managers’ Index (PMI) dari S&P Global yang berada di angka 47,4.
Pelemahan ekonomi domestik ini menjadi tantangan bagi IHSG untuk mempertahankan posisinya di level 7.000. Ke depan, investor perlu mencermati perkembangan data ekonomi dan sentimen pasar untuk mengantisipasi pergerakan IHSG.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar