IHSG Bangkit Saham Ini Bikin Investor Penasaran

IHSG Bangkit Saham Ini Bikin Investor Penasaran

haluannews.id – Pasar modal Indonesia kembali menunjukkan taringnya. Indeks Harga Saham Gabungan IHSG berhasil melaju kencang, ditutup menguat 1,10% pada perdagangan Kamis lalu, mencapai level 6.108,21. Kenaikan signifikan ini terutama didorong oleh performa gemilang saham-saham unggulan seperti ASII BMRI dan BBCA, meskipun pergerakan indeks sempat dibayangi oleh tekanan dari UNTR VKTR dan AMRT.

COLLABMEDIANET

Antusiasme investor asing terlihat jelas dengan catatan beli bersih mencapai Rp283,41 miliar di pasar reguler, dan melonjak hingga Rp1,22 triliun di seluruh pasar. Arus dana segar ini sebagian besar mengalir ke sektor perbankan dan emiten komoditas. Tak hanya itu, transaksi negosiasi jumbo terkait akuisisi saham PKPK senilai lebih dari Rp1 triliun turut memicu optimisme. Sentimen positif ini juga mengerek kinerja ETF EIDO sebesar 1,33% dan MSCI Indonesia sebesar 1,55%.

IHSG Bangkit Saham Ini Bikin Investor Penasaran
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Kekuatan pasar tak hanya terbatas pada beberapa saham saja. Seluruh 11 sektor yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia kompak ditutup di zona hijau, dengan sektor teknologi memimpin reli kenaikan sebesar 1,94%. Fenomena ini kontras dengan kondisi pasar global, di mana mayoritas indeks saham Amerika Serikat justru melemah. Indeks Dow Jones terkoreksi 0,20%, S&P 500 turun 0,51%, dan Nasdaq anjlok 1,47% akibat tekanan pada saham-saham teknologi raksasa.

Di tengah geliat pasar, sejumlah aksi korporasi menarik perhatian investor. PT Tower Bersama Infrastructure Tbk TBIG misalnya, bersiap melebarkan sayap bisnisnya. Melalui anak usahanya PT Tower Bersama, perseroan berencana menambah kegiatan usaha baru berupa layanan Network Access Point NAP. Langkah strategis ini bertujuan memperkuat ekosistem infrastruktur digital TBIG di luar bisnis utama penyewaan menara telekomunikasi. Mengingat kontribusi Tower Bersama terhadap pendapatan konsolidasi melebihi 20%, rencana ini masuk kategori transaksi material dan akan dimintakan persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham RUPS pada 24 Agustus mendatang. Model bisnis NAP ini akan fokus sebagai penyedia layanan wholesale IP transit, menyasar pelanggan penyelenggara jasa internet ISP Tier 2-3 dan segmen korporasi. Pengembangan ini akan memanfaatkan sinergi aset grup yang mencakup jaringan serat optik sepanjang lebih dari 60.000 kilometer, menara telekomunikasi, serta pusat data. Untuk investasi awal, TBIG menyiapkan sekitar Rp47,40 miliar yang sepenuhnya berasal dari kas internal, sehingga tidak akan memengaruhi struktur permodalan maupun menambah beban utang. Berdasarkan studi kelayakan independen, proyeksi bisnis ini menjanjikan Internal Rate of Return IRR sebesar 18,65%, Net Present Value NPV positif Rp37,83 miliar, Profitability Index 1,86 kali, dengan estimasi pengembalian investasi sekitar 7 tahun 4 bulan.

Sementara itu, PT Pinago Utama Tbk PNGO kini memasuki periode penawaran tender wajib Mandatory Tender Offer MTO. Aksi ini dilakukan oleh pengendali barunya, AEP Nusantara Holdings Limited, yang menawarkan untuk membeli maksimal 13,59 juta saham atau sekitar 1,74% dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Harga penawaran ditetapkan Rp3.584 per saham, dengan nilai transaksi maksimal MTO diperkirakan mencapai sekitar Rp48,69 miliar. Periode penawaran berlangsung dari 16 Juli hingga 14 Agustus 2024. MTO ini merupakan kelanjutan dari akuisisi 767,66 juta saham atau sekitar 98,26% kepemilikan PNGO senilai Rp2,75 triliun oleh AEP Nusantara pada 4 Mei lalu. Perseroan menegaskan bahwa pelaksanaan MTO ini adalah pemenuhan ketentuan regulasi setelah perubahan pengendalian dan tidak disertai rencana penghapusan pencatatan saham dari Bursa. Meskipun seluruh saham publik dapat diperoleh, pengendali baru tetap wajib memenuhi ketentuan porsi kepemilikan publik sesuai regulasi yang berlaku.

Tak ketinggalan, PT Habco Trans Maritima Tbk HATM berencana melakukan penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu PMTHMETD. Perseroan akan menerbitkan maksimal 800 juta saham baru, setara sekitar 9,22% dari modal ditempatkan dan disetor penuh saat ini. Harga pelaksanaan akan mengacu pada ketentuan Bursa Efek Indonesia, yaitu sekurang-kurangnya 90% dari rata-rata harga penutupan saham selama 25 hari bursa berturut-turut sebelum pengajuan pencatatan saham tambahan. Seluruh dana yang terkumpul dari aksi korporasi ini akan dialokasikan untuk belanja modal. HATM memastikan aksi ini tidak akan mengubah struktur pengendalian perusahaan. Namun, setelah PMTHMETD terlaksana, porsi kepemilikan masyarakat diperkirakan akan berubah dari 13,29% menjadi 12,17%, yang berpotensi menyebabkan dilusi sekitar 8,44% bagi pemegang saham publik.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar