Haluannews Ekonomi – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup merah menganga, ambles 1,54% atau 110,75 poin ke level 7.065,07. Fenomena ini diwarnai aksi jual besar-besaran dengan nilai transaksi mencapai Rp 22,24 triliun, melibatkan 26,4 miliar saham dalam 1,5 juta kali transaksi. Hampir seluruh sektor terbenam dalam zona merah, dipimpin oleh sektor utilitas (-3,26%), finansial (-3,18%), properti (-1,65%), dan industri (-1,09%). Saham perbankan menjadi biang keladi penurunan IHSG, dengan BBRI (-38,22 poin indeks), BBCA (-20,44 poin indeks), BMRI (-19,81 poin indeks), dan TLKM (-8,55 poin indeks) sebagai kontributor utama pelemahan.

Related Post
Analis Haluannews.id mencatat, pelemahan IHSG ini dipicu oleh rilis data ekonomi penting, termasuk data Indeks Harga Konsumen (IHK) Mei 2025 yang mencatat deflasi 0,37%. Deflasi ini lebih dalam dari periode yang sama tahun sebelumnya dan menjadi deflasi ketiga sepanjang tahun ini setelah Januari dan Februari. Meskipun pemerintah telah mengumumkan lima insentif baru untuk mendongkrak daya beli dan pertumbuhan ekonomi, paket stimulus tersebut, yang diumumkan Menteri Keuangan Sri Mulyani, tidak termasuk diskon tarif listrik 50% yang sebelumnya dijanjikan. Deflasi yang dalam, ditambah absennya insentif listrik, memicu kekhawatiran akan melemahnya daya beli masyarakat dan menjadi sentimen negatif bagi pasar saham. Pertanyaan besar kini muncul: akankah pemerintah mengambil langkah lebih agresif untuk membendung penurunan ekonomi?

Data deflasi yang dirilis BPS menunjukkan penurunan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 1,40%. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa pelemahan harga barang bukan disebabkan oleh normalisasi harga atau pasokan yang memadai, melainkan karena melemahnya permintaan. Hal ini menjadi sinyal peringatan bagi pelaku pasar dan pemerintah untuk segera mengambil langkah strategis. Ketidakpastian ekonomi global juga turut menambah tekanan pada IHSG.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar