Kekuatan IHSG tercermin dari dominasi saham yang menguat, yakni sebanyak 597 saham naik, sementara 164 saham melemah, dan 197 saham stagnan. Aktivitas transaksi juga sangat tinggi, mencapai Rp 25,84 triliun dengan melibatkan 36,33 miliar saham yang berpindah tangan dalam 2,1 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar ikut terdongkrak, menyentuh Rp 12.842 triliun.

Related Post
Mengutip data Refinitiv, seluruh sektor industri menunjukkan performa positif, berada di zona hijau. Sektor industri, konsumer primer, dan energi menjadi motor penggerak utama dengan penguatan paling signifikan. Saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) turut menjadi penopang utama lonjakan IHSG. PT Astra International Tbk (ASII) memimpin dengan kenaikan fantastis 13,79% ke Rp 6.600, menyumbang 32,76 indeks poin. Diikuti oleh PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) yang naik 8,2% dan berkontribusi 26,3 indeks poin. Bank-bank jumbo juga tak ketinggalan, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) melesat 5,07% dengan sumbangan 18,64 indeks poin, serta PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) yang menguat 1,72% menambah 9,43 indeks poin.

Kinerja positif IHSG ini selaras dengan tren penguatan bursa regional Asia. Indeks Nikkei di Jepang tercatat naik 2,84%, sementara Kospi di Korea Selatan juga menguat 1,59%.
Meskipun pekan ini lebih singkat, perhatian investor tetap terfokus pada serangkaian agenda penting baik dari ranah global maupun domestik. Beberapa data ekonomi yang dinanti antara lain perkembangan uang beredar, data sentimen konsumen Amerika Serikat, rilis harga impor dan ekspor AS, serta klaim pengangguran awal AS. Rangkaian sentimen makroekonomi ini diperkirakan akan menjadi katalisator penggerak pasar, tidak hanya untuk saham, tetapi juga nilai tukar rupiah dan harga komoditas sepanjang pekan ini.
Di sisi lain, harga minyak dunia justru mengalami tekanan signifikan pada perdagangan Rabu pagi (25/3/2026), dengan penurunan mendekati 5%. Pelemahan ini dipicu oleh meredanya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan dari Timur Tengah. Laporan mengenai meningkatnya ekspektasi gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, di mana pemerintah AS disebut telah mengajukan proposal perdamaian 15 poin, menjadi faktor utama. Analis Nissan Securities Investment, Hiroyuki Kikukawa, menyoroti adanya aksi ambil untung oleh pelaku pasar setelah harga sempat melonjak. Ia menambahkan, ekspektasi meredanya konflik mendorong pengurangan posisi, meskipun arah negosiasi masih diselimuti ketidakpastian.
Editor: Rohman




Tinggalkan komentar