Sepanjang paruh pertama hari perdagangan, IHSG menunjukkan konsistensi di zona hijau, bergerak dalam rentang 8.546,14 hingga 8.615,73, selalu berada di atas penutupan pekan sebelumnya. Aktivitas transaksi juga cukup ramai, tercatat nilai perdagangan mencapai Rp 13,33 triliun, melibatkan 22,73 miliar lembar saham yang diperdagangkan melalui 1,71 juta kali transaksi. Sentimen positif ini tercermin dari dominasi saham yang menguat, dengan 468 emiten bergerak naik, berbanding 241 yang melemah, sementara 249 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga.

Related Post
Data dari Refinitiv yang dikutip oleh Haluannews.id menunjukkan bahwa mayoritas sektor industri turut menikmati kenaikan. Sektor bahan baku memimpin penguatan dengan lonjakan 2,99%, diikuti oleh sektor konsumer non-primer yang terapresiasi 2,21%, dan sektor utilitas yang juga menanjak 2,11%. Kinerja positif dari sektor-sektor ini menjadi pendorong utama laju IHSG.

Beberapa emiten dengan kapitalisasi besar dan fundamental kuat menjadi lokomotif penggerak indeks pada sesi ini. Saham Amman Mineral (AMMN) terpantau melesat 6,05%, memberikan kontribusi signifikan sebesar 12,05 poin terhadap kenaikan IHSG. Tak ketinggalan, Bumi Resources Minerals (BRMS) juga mencatatkan apresiasi 6,45%, menyumbang 8,61 poin indeks.
Kelompok usaha milik konglomerat Prajogo Pangestu juga kompak menunjukkan performa cemerlang. Emiten-emiten seperti Barito Pacific (BRPT), Barito Renewables Energy (BREN), dan Petrindo Jaya Kreasi (CUAN) secara kolektif menyumbangkan total 20,59 poin indeks. Kenaikan ini didorong oleh ekspektasi pasar terhadap rencana aksi korporasi yang akan dilakukan oleh CUAN. Pergerakan positif dari emiten-emiten tersebut berhasil membendung potensi koreksi yang lebih dalam dari saham-saham berkapitalisasi besar lainnya seperti DCI Indonesia (DCII) dan Dian Swastatika Sentosa (DSSA).
Memasuki pekan terakhir perdagangan di tahun 2025, pelaku pasar diprediksi akan menghadapi peningkatan volatilitas. Dengan hanya tersisa tiga hari perdagangan akibat libur perayaan Tahun Baru, fokus investor akan tertuju pada serangkaian rilis data ekonomi penting, baik dari dalam maupun luar negeri, yang berpotensi menjadi katalis utama pergerakan pasar.
Dari kancah domestik, perhatian investor akan tertuju pada publikasi Indeks Harga Konsumen (IHK) untuk bulan Desember, yang akan memberikan gambaran inflasi akhir tahun. Selain itu, data Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur juga akan dicermati untuk mengukur kondisi aktivitas sektor industri di Indonesia.
Di ranah global, pasar akan memantau ketat perkembangan kebijakan moneter dan rilis data ekonomi dari sejumlah negara kunci. Risalah pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) dari bank sentral AS (The Fed), data inflasi Amerika Serikat, serta sinyal lanjutan dari Bank of Japan dan kondisi manufaktur di China, semuanya akan menjadi faktor penentu. Perkembangan ini akan mempengaruhi sentimen risiko global, dinamika pergerakan dolar AS, serta arah aliran modal ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar