Haluannews Ekonomi – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terperosok dalam pada perdagangan Rabu (4/3/2026) pagi, melanjutkan tren koreksi signifikan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Tekanan jual yang masif membuat pasar saham domestik bergejolak hebat, memicu kekhawatiran di kalangan investor.

Related Post
Hanya dalam waktu kurang dari 30 menit setelah pembukaan pasar, IHSG kehilangan 202 poin atau anjlok tajam 2,55%, bertengger di level 7.736,92. Kondisi ini mencerminkan dominasi sentimen negatif, di mana 561 saham mengalami penurunan harga, berbanding jauh dengan 105 saham yang menguat, dan 168 saham yang stagnan. Total nilai transaksi pagi ini mencapai Rp 5,97 triliun, melibatkan 11,07 miliar saham dalam 693.762 kali transaksi, menunjukkan aktivitas jual yang tinggi.

Saham-saham dari emiten tambang energi seperti ENRG, BUMI, dan MEDC menjadi yang paling aktif diperdagangkan, namun sayangnya turut berkontribusi pada pelemahan indeks. Tak hanya itu, saham-saham sektor pertambangan emas juga kompak melemah. Beban terbesar bagi IHSG datang dari saham-saham konglomerasi dan blue chip. Hampir seluruh emiten milik Prajogo Pangestu, serta saham-saham dari konglomerat lain seperti Hapsoro, Aguan, Bakrie, Hary Tanoe, hingga Garibaldi ‘Boy’ Thohir, kompak berguguran. Seluruh sektor perdagangan terpantau di zona merah, dengan sektor infrastruktur dan barang baku mencatatkan koreksi terdalam, sementara sektor kesehatan dan energi relatif lebih tangguh.
Tekanan terhadap pasar keuangan domestik tidak hanya berasal dari pergerakan harga saham. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga tengah berupaya memenuhi tuntutan dari penyedia indeks global MSCI, yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas pasar modal Indonesia. Perkembangan terbaru mencakup pemutakhiran pengungkapan data pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1%, yang telah disetorkan oleh KSEI per 27 Februari 2026. Selain itu, reklasifikasi tipe investor dari 9 menjadi 27 jenis telah mencapai progres 94%. OJK juga sedang menggodok kenaikan batas minimum free float dari 7,5% menjadi 15% serta akan memperkenalkan shareholder concentration list untuk membantu investor menilai risiko.
Di kancah global, sentimen negatif turut membayangi. Indeks Kospi Korea Selatan anjlok 7,24% pada hari yang sama, melanjutkan koreksi tajam sebelumnya, di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah. Investor di Asia-Pasifik juga mencermati pertemuan parlemen tahunan Tiongkok, "Dua Sesi", yang dimulai hari ini. Perdana Menteri Tiongkok Li Qiang dijadwalkan mengumumkan target ekonomi, yang dapat memengaruhi sentimen pasar regional. Pasar Asia lainnya juga menunjukkan pelemahan, seperti S&P/ASX 200 Australia yang turun 1,81%, Nikkei 225 Jepang kehilangan 1,59%, dan Topix turun 1,61%. Kontrak berjangka indeks Hang Seng Hong Kong juga terpantau lebih rendah.
Situasi geopolitik yang memanas juga mendorong kenaikan harga minyak. Harga minyak mentah berjangka AS naik 0,87% menjadi $75,21, sementara Brent melonjak 5,43% menjadi $81,96 per barel, dipicu oleh ancaman Iran untuk menutup Selat Hormuz. Seorang komandan Garda Revolusi Iran mengklaim jalur vital tersebut telah ditutup, memicu respons keras dari Presiden AS Donald Trump yang menegaskan Angkatan Laut AS akan mengawal kapal tanker jika diperlukan, demi menjamin "ALIRAN ENERGI BEBAS ke DUNIA". Di Amerika Serikat, pasar saham juga mengalami sesi bergejolak semalam akibat kekhawatiran konflik AS-Iran yang berkepanjangan. Indeks Dow Jones Industrial Average kehilangan 0,83%, S&P 500 turun 0,94%, dan Nasdaq Composite melemah 1,02%, dengan penurunan intraday yang jauh lebih dalam.
Kombinasi antara tekanan jual domestik yang kuat, upaya pembenahan regulasi yang sedang berjalan, serta gejolak geopolitik dan ekonomi global yang memanas, menciptakan badai sempurna yang menekan kinerja IHSG. Investor disarankan untuk tetap waspada di tengah volatilitas pasar yang diperkirakan masih akan berlanjut.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar