Haluannews Ekonomi – Pemerintah terus mendorong dana pensiun dan perusahaan asuransi untuk meningkatkan porsi investasi mereka di instrumen saham. Kebijakan ini, yang diharapkan dapat mengerek pertumbuhan pasar modal domestik, disambut dengan nada kehati-hatian oleh para pelaku industri. Ketua Umum Dewan Asuransi Indonesia, Yulius Bhayangkara, dan Chief Investment Officer PT BRI Manajemen Investasi, Herman Tjahjadi, menyoroti pentingnya manajemen risiko yang cermat dan potensi tantangan likuiditas yang harus diantisipasi.

Related Post
Yulius Bhayangkara menegaskan bahwa langkah peningkatan investasi di saham ini merupakan keniscayaan, namun harus diimbangi dengan manajemen risiko yang mumpuni. Ia mengingatkan bahwa Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah membekali industri asuransi dengan berbagai regulasi komprehensif, termasuk ketentuan ketat mengenai pengelolaan rasio solvabilitas. "Investasi di saham bukan sekadar mengejar imbal hasil tinggi, melainkan juga menjaga stabilitas keuangan perusahaan dan kepercayaan pemegang polis atau peserta dana pensiun. Kepatuhan terhadap aturan OJK adalah fondasi utamanya," ujar Yulius, seperti dikutip dari Haluannews.id.

Senada, Herman Tjahjadi dari PT BRI Manajemen Investasi menekankan pentingnya pendekatan yang pruden. Ia mengungkapkan kekhawatiran jika kenaikan porsi investasi saham ini tidak dilakukan dengan hati-hati, justru bisa menimbulkan efek negatif pada kedalaman pasar. "Peningkatan minat yang masif dan terfokus pada saham-saham tertentu berpotensi mempersempit likuiditas di emiten tersebut. Hal ini bisa membuat harga menjadi kurang efisien dan menyulitkan bagi investor lain untuk melakukan transaksi keluar-masuk, menciptakan distorsi pasar," jelas Herman.
Diskusi yang disiarkan dalam program Power Lunch Haluannews.id pada Kamis (05/03/2026) ini menggarisbawahi bahwa meskipun arahan pemerintah membuka peluang besar bagi penguatan pasar modal, implementasinya memerlukan strategi yang matang dan terukur. Keseimbangan antara potensi keuntungan yang ditawarkan instrumen saham dan pengelolaan risiko, terutama terkait likuiditas dan konsentrasi investasi, menjadi kunci utama bagi keberhasilan kebijakan ini.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar