Haluannews Ekonomi – Jauh sebelum istilah ‘9 Naga’ mencuat, era Orde Baru telah diwarnai dengan kisah ‘Gang of Four’ atau ‘Empat Sekawan’. Mereka adalah Sudono Salim, Sudwikatmono, Ibrahim Risjad, dan Djuhar Sutanto, yang dianggap sebagai kekuatan utama di balik roda ekonomi Indonesia pada masa itu.

Related Post
Kisah ini bermula pada tahun 1968, ketika takdir mempertemukan keempat tokoh tersebut. Sebelumnya, mereka menjalani kehidupan masing-masing. Salim dan Djuhar dikenal sebagai pedagang ulung, sementara Sudwikatmono dan Risjad masih berstatus sebagai karyawan biasa. Pertemuan yang tak disengaja ini menjadi fondasi bagi terbentuknya ‘Gang of Four’.

Pertemuan Salim dan Sudwikatmono menjadi titik awal. Salim, yang telah malang melintang di dunia bisnis sejak 1960-an, dikenal dekat dengan Soeharto. Suatu ketika, Salim dipanggil ke kediaman Soeharto di Menteng. Di sana, ia bertemu dengan Sudwikatmono yang sedang bertugas menjaga rumah sepupunya itu.
Pertemuan singkat itu berlanjut dengan tawaran menggiurkan dari Salim kepada Sudwikatmono untuk bergabung dalam bisnisnya. Soeharto sendiri yang merekomendasikan nama Sudwikatmono, dengan alasan Salim belum menjadi Warga Negara Indonesia dan kesulitan mendapatkan pinjaman. Sudwikatmono pun menerima tawaran tersebut, yang mengubah hidupnya secara drastis.
Pada tahun 1966, Djuhar Sutanto, seorang tokoh penting di perusahaan Kongsi Bintang Lima yang dekat dengan militer, diperkenalkan kepada Salim oleh Soeharto. Keduanya memiliki visi yang sama dalam berbisnis. Salim dan Dwi kemudian bertemu dengan Djuhar. Bersama-sama, mereka mengambil alih CV Waringin dan mengubahnya menjadi Perseroan Terbatas. Karena status kewarganegaraan yang belum jelas, Sudwikatmono dan Ibrahim Risjad digunakan untuk urusan administrasi. Dari sinilah ‘Gang of Four’ secara resmi terbentuk.
Setelah Liem dan Djuhar menjadi WNI dan Soeharto menjabat sebagai presiden, bisnis mereka melesat pesat. Dimulai dari bisnis tepung melalui PT. Bogasari, keempatnya kemudian tergabung dalam Salim Group dan menduduki posisi strategis. Mereka terlibat dalam pendirian perusahaan-perusahaan raksasa seperti Indocement, Indomilk, Indofood, Indomobil, dan Indomaret. Dengan dukungan dari Soeharto, bisnis mereka semakin berkembang dan menguasai pasar Indonesia. Masing-masing anggota ‘Gang of Four’ kemudian mengembangkan kerajaan bisnisnya sendiri, tanpa melupakan akar mereka di Salim Group.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar