Haluannews Ekonomi – Jakarta – Gelaran Black Friday 2025, yang identik dengan pesta diskon besar-besaran, ternyata tak semeriah yang dibayangkan. Konsumen Amerika Serikat (AS) terpantau lebih mengerem pengeluaran mereka, menunjukkan sikap kehati-hatian di tengah kondisi ekonomi yang menantang.

Related Post
Survei terbaru dari Deloitte mengungkapkan fakta menarik, yaitu rencana penurunan belanja konsumen AS selama periode Black Friday-Cyber Monday. Ini menjadi kali pertama dalam empat tahun terakhir, warga Paman Sam menunjukkan sinyal pengetatan ikat pinggang. Meskipun demikian, proporsi konsumen yang berencana berpartisipasi dalam pekan belanja tersebut justru lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.

Rata-rata, setiap pembeli diperkirakan akan membelanjakan sekitar USD 622, atau mengalami penurunan sebesar 4% dibandingkan tahun lalu. Angka ini mencerminkan dampak dari biaya hidup yang semakin tinggi dan berbagai kendala keuangan yang menghimpit masyarakat AS.
Situasi ini juga menjadi tantangan tersendiri bagi para peritel. Mereka harus berjuang menghadapi berbagai hambatan, mulai dari tarif impor, kenaikan biaya rantai pasokan, hingga pengetatan anggaran konsumen. Manajemen inventaris yang lebih ketat pun menjadi kunci untuk menjaga profitabilitas. Akibatnya, diskon yang ditawarkan pada musim belanja kali ini diperkirakan tidak akan seagresif tahun sebelumnya.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar