Haluannews Ekonomi – Pasar karbon Indonesia menunjukkan geliat yang signifikan. Bursa Karbon Indonesia (IDXCarbon) mencatatkan volume perdagangan unit karbon mencapai 1,6 juta ton CO2 ekuivalen Sertifikat Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca (SPE-GRK) hingga Juli 2025. Nilai transaksi yang berhasil dibukukan mencapai Rp77,85 miliar, menandakan potensi besar dalam mekanisme perdagangan karbon di Indonesia.

Related Post
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Iman Rachman, mengungkapkan data menggembirakan ini saat peluncuran Buku Mengenal dan Memahami Perdagangan Karbon bagi Sektor Jasa Keuangan di Gedung BEI. Peningkatan juga terlihat pada jumlah pengguna jasa yang melonjak dari 16 menjadi 113. Aktivitas retirement karbon juga mengalami peningkatan drastis dari 6.220 ton di tahun 2023 menjadi 980.475 ton saat ini.

Delapan proyek telah resmi terdaftar di IDXCarbon, mencakup sektor energi bersih, pengelolaan limbah, hingga pemanfaatan limbah POME untuk biogas. Langkah ini sejalan dengan upaya IDXCarbon dalam mendukung transisi energi bersih dan pencapaian target penurunan emisi gas rumah kaca nasional. Pencapaian ini diraih sejak peluncuran IDXCarbon pada 26 September 2023.
Ketua Dewan Komisioner (DK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mahendra Siregar, menekankan bahwa peluncuran buku tersebut adalah bagian dari upaya memperkuat ekosistem ekonomi hijau dan pembangunan rendah karbon di Indonesia. Buku ini memuat kerangka kebijakan, regulasi, dan kelembagaan perdagangan karbon, termasuk kewenangan OJK dan peran kementerian/lembaga terkait. Selain itu, dibahas pula mekanisme perdagangan karbon, potensi tantangan, risiko, dan peran strategis sektor jasa keuangan.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar