Haluannews Ekonomi – Kasus mega skandal asuransi Wanaartha yang menghebohkan pada 2019 masih menyisakan bara api. Evelina F. Pietruschka, sosok yang diburu Interpol, dilaporkan menikmati hidup mewah di Amerika Serikat, memicu kegeraman penegak hukum dan para korban yang masih menanti kejelasan nasib dana mereka.

Related Post
Evelina Pietruschka bukan nama sembarangan di kancah industri asuransi nasional. Ia memiliki jejak karier yang cemerlang dan pernah menduduki posisi strategis di berbagai asosiasi. Tercatat, ia pernah menjabat sebagai Vice Chairman dan kemudian Chairman Dewan Asuransi Indonesia (DAI) pada periode 2001-2005. Kariernya berlanjut sebagai Ketua Umum Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) dari tahun 2005 hingga 2011, serta Chairman Federasi Asosiasi Perasuransian Indonesia (FAPI) periode 2007-2008. Bahkan, kiprahnya meluas hingga tingkat regional sebagai Sekretaris Jenderal ASEAN Insurance Council. Evelina juga diketahui meraih gelar Master dari Pepperdine University California, Amerika Serikat. Ironisnya, kini ia menjadi buron dalam kasus yang merugikan ribuan nasabah.

Perburuan Lintas Negara: Interpol dan Tantangan Kekayaan Pelaku
Penegak hukum Indonesia, berkolaborasi erat dengan Interpol, tak kenal lelah memburu Evelina dan anggota keluarganya. Sekretaris NCB Interpol, Untung Widyatmoko, mengungkapkan bahwa putra Evelina, Rezanantha Pietruschka, sempat berhasil ditangkap di California. Namun, ia kemudian dibebaskan setelah membayar jaminan (bail).
"Pelaku tindak pidana ekonomi tidak ada yang miskin, semua kaya, bisa menyewa lawyer," ujar Untung, menjelaskan tantangan yang dihadapi aparat. Menurutnya, para buron ini kerap menantang red notice Interpol dengan dalih bahwa kasus yang menjerat mereka adalah perdata, bukan pidana, demi menggugurkan status pencarian.
Untuk mengatasi kendala ini, Interpol Indonesia aktif menjalin komunikasi dengan mitra di Amerika Serikat, termasuk U.S. Department of Homeland Security, U.S. Immigration and Customs Enforcement (ICE), dan Federal Bureau of Investigation (FBI). "Jangan kira kami hanya diam saja, tidak. Kami terus bekerja," tegas Untung, menunjukkan komitmen untuk menyeret para buron ke meja hijau.
Hidup Mewah di Beverly Hills, Korban Merana
Perburuan tersangka kasus Wanaartha tidak hanya dilakukan oleh pihak berwajib. Sejumlah korban yang merasa tertipu secara sukarela dan swadaya melakukan investigasi. Pada Oktober 2023, setelah empat tahun lebih menanti kejelasan, seorang nasabah Wanaartha bahkan rela terbang ke California demi mencari Evelina.
Dalam tayangan video yang diterima Haluannews.id kala itu, nasabah tersebut mendatangi kompleks perumahan mewah di Beverly Hills, California. Namun, belum sempat masuk gerbang, ia dihadang oleh satpam. Evelina sendiri disebut mengangkat telepon dari kediamannya dan menolak untuk bertemu, serta tidak mengizinkan nasabah tersebut masuk.
Data dari Clustrmaps, sebuah situs yang mengklaim menyajikan informasi publik, mengindikasikan bahwa Pietruschka memiliki aset rumah mewah di Beverly Hills. Menurut marketplace properti di AS, Zillow, nilai properti tersebut mencapai jutaan dolar AS, atau setara puluhan hingga ratusan miliar rupiah. Namun, Haluannews.id tidak dapat memverifikasi informasi ini secara independen.
Kasus ini menjadi cerminan kompleksitas penanganan kejahatan ekonomi lintas negara, di mana kekayaan pelaku seringkali menjadi tameng hukum. Namun, komitmen penegak hukum untuk menyeret Evelina ke meja hijau demi keadilan para korban tetap tak tergoyahkan.
Editor: Rohman




Tinggalkan komentar