Haluannews Ekonomi – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) berencana melakukan perampingan besar-besaran terhadap perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Dari total 1.044 perusahaan BUMN saat ini, Danantara menargetkan hanya akan menyisakan sekitar 230 hingga 240 perusahaan dalam lima tahun ke depan. Artinya, sekitar 804 perusahaan, termasuk anak, cucu, dan cicit usaha BUMN, atau sekitar 77% dari total, akan dipangkas.

Related Post
Chief Executive Officer Danantara, Rosan Roeslani, mengungkapkan bahwa jumlah BUMN saat ini membengkak menjadi 1.044 perusahaan yang tersebar di 12 sektor usaha. Pembentukan anak usaha BUMN yang masif menjadi salah satu penyebab utama peningkatan jumlah tersebut.

"Kita ingin membuat ini efektif, efisien dari seribu. Kita sudah review, mungkin arahnya hanya sampai 230-240 BUMN nantinya, 5 tahun ke depan. Itu memang target dari kami," ujar Rosan di Jakarta, Senin (20/10).
Konsolidasi BUMN yang sebelumnya telah dilakukan di bawah kepemimpinan Erick Thohir dinilai belum cukup. Oleh karena itu, Danantara akan kembali melakukan efisiensi untuk mengoptimalkan aset dan menciptakan nilai tambah yang lebih besar.
Pendanaan Danantara sendiri berasal dari dividen BUMN. Rosan menjelaskan bahwa dividen yang sebelumnya disetorkan ke Kementerian Keuangan, kini dapat langsung diinvestasikan kembali oleh Danantara.
Danantara menargetkan investasi BUMN sebesar Rp 750 triliun dalam lima tahun ke depan. Target ini didasarkan pada proyeksi dividen tahunan sebesar Rp 140-150 triliun.
"Dividen kita kurang lebih itu pada tahun ini kita terima, walaupun kita terima secara bertahap, itu kurang lebih mencapai 140 triliun. Nah kalau kita bicara kali 5 untuk perhitungan gampang mungkin ya, jadi 150 triliun. Kalau kita kali 5 berarti nilainya berapa? 750 triliun. Itu dalam 5 tahun depan yang kita bisa investasikan," pungkas Rosan.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar