Haluannews Ekonomi – Kabar mengejutkan datang dari industri persepatuan nasional. PT Sepatu Bata Tbk (BATA) resmi menghentikan kegiatan produksi sepatu, sebuah keputusan besar yang disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 25 September 2025. Langkah ini menandai perubahan signifikan dalam strategi bisnis perusahaan yang telah lama dikenal sebagai produsen sepatu lokal.

Related Post
Keputusan penghapusan kegiatan usaha industri alas kaki ini tertuang dalam perubahan Pasal 3 Anggaran Dasar Perseroan, seperti yang diumumkan dalam keterbukaan informasi perusahaan. Selanjutnya, Bata akan menyusun ulang seluruh ketentuan dalam Anggaran Dasar Perseroan terkait perubahan tersebut.

Keputusan ini menyusul penutupan pabrik sepatu Bata di Purwakarta pada tahun sebelumnya, yang berdampak pada hilangnya pekerjaan bagi 233 karyawan. Direktur Bata, Hatta Tutuko, mengungkapkan bahwa perusahaan telah berupaya keras selama empat tahun terakhir untuk mengatasi kerugian dan tantangan industri yang diperparah oleh pandemi dan perubahan perilaku konsumen yang cepat. Sayangnya, upaya tersebut belum membuahkan hasil yang optimal.
"Perseroan sudah tidak dapat melanjutkan produksi di pabrik Purwakarta, karena permintaan pelanggan terhadap jenis produk yang dibuat di Pabrik Purwakarta terus menurun dan kapasitas produksi pabrik jauh melebihi kebutuhan yang bisa diperoleh secara berkelanjutan dari pemasok lokal di Indonesia," jelas Hatta.
Kinerja keuangan Bata memang tengah mengalami penurunan. Pada akhir tahun 2023, perusahaan mencatatkan rugi tahun berjalan yang diatribusikan ke entitas induk sebesar Rp190,29 miliar, melonjak 79,65% dari Rp105,92 miliar pada tahun 2022. Tren negatif ini berlanjut hingga Maret 2025, dengan rugi sebesar Rp 19,64 miliar, meningkat 41,75% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Penjualan Bata juga mengalami penurunan. Pendapatan pada Maret 2025 tercatat sebesar Rp 94,92 miliar, turun 16,34% secara tahunan. Meskipun perusahaan telah berupaya menekan beban operasional, hal ini belum cukup untuk memperbaiki kinerja bottom line.
Selain menghentikan produksi, Bata juga telah melakukan restrukturisasi dengan menutup atau berencana menutup lebih dari 200 gerai yang merugi, dengan tujuan untuk membangun kembali jaringan gerai yang menguntungkan. Langkah-langkah ini menunjukkan upaya perusahaan untuk beradaptasi dengan perubahan pasar dan memfokuskan diri pada profitabilitas.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar