Sinyal Kuat! Kredit Perbankan Diprediksi Melonjak Dua Digit di 2026

Related Post
Haluannews Ekonomi – Industri perbankan nasional diproyeksikan akan mencatat pertumbuhan kredit yang signifikan, berpotensi mencapai angka dua digit, yaitu sekitar 10% pada akhir tahun 2026. Prediksi optimis ini disampaikan oleh Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, yang melihat adanya percepatan aktivitas ekonomi sebagai pendorong utama laju ekspansi kredit.

Dalam tinjauan ekonomi PIER yang diselenggarakan secara virtual pada Jumat (20/2/2026), Josua menyoroti tren positif dari pertumbuhan kredit investasi tahun lalu yang cukup substansial. Menurutnya, hal ini akan mulai merefleksikan peningkatan permintaan kredit modal kerja di tahun berjalan. "Jika produktivitas perekonomian terus membaik, dengan harapan bahwa pertumbuhan kredit investasi tahun lalu yang signifikan tersebut mulai tercermin pada permintaan kredit modal kerja tahun ini, kami memperkirakan pertumbuhan kredit akan sedikit lebih baik dibandingkan tahun lalu, di kisaran 10%," jelas Josua, seperti dilansir Haluannews.id.
Sejalan dengan itu, penghimpunan dana masyarakat atau Dana Pihak Ketiga (DPK) juga diperkirakan akan menunjukkan pertumbuhan dua digit, mencapai sekitar 10% pada akhir 2026. Kondisi ini akan mengoptimalkan rasio pinjaman terhadap simpanan (Loan to Deposit Ratio/LDR) di kisaran 85%, menunjukkan keseimbangan yang sehat antara penyaluran kredit dan penghimpunan dana di sektor perbankan.
Namun, Josua juga memberikan catatan khusus mengenai industri otomotif. Meskipun masih menghadapi tantangan, sektor ini diperkirakan akan menunjukkan perbaikan terbatas dibandingkan tahun sebelumnya. Rinciannya, penjualan kendaraan roda empat diproyeksikan naik sekitar 2% menjadi 821 ribu unit, sementara penjualan kendaraan roda dua diperkirakan stagnan di angka 6,4 juta unit.
Mengingat kembali performa tahun lalu, kredit perbankan tumbuh 9,69% secara tahunan (yoy), dengan laju yang cenderung lamban atau ‘sluggish’ sepanjang sebagian besar tahun. Peningkatan signifikan baru terlihat pada periode November hingga Desember, yang menurut Josua, didorong oleh penyaluran kredit terkait program-program prioritas pemerintah.
Menariknya, pertumbuhan DPK pada tahun 2025 justru melampaui pertumbuhan kredit, mencapai dua digit. Josua mengidentifikasi penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah di bank-bank Himbara sebagai faktor utama di balik fenomena ini. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya peningkatan penyaluran kredit, terutama mengingat pertumbuhan yang belum merata di semua segmen bisnis, khususnya Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Pemerataan penyaluran kredit menjadi kunci untuk memastikan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Proyeksi Josua sejalan dengan target yang ditetapkan oleh regulator. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menargetkan pertumbuhan kredit tahun ini berkisar antara 10%-12%, sementara Bank Indonesia (BI) mematok target di rentang 8%-12%. Konsensus ini mengindikasikan optimisme terhadap prospek sektor keuangan di tengah dinamika ekonomi global dan domestik.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar