Grasberg Picu Lonjakan Tembaga Global: Harga Pecah Rekor!

Haluannews Ekonomi – Pasar komoditas global kembali bergejolak setelah harga tembaga di bursa Amerika Serikat melesat menembus rekor historis baru pada Senin, 5 Januari 2026. Lonjakan ini, yang melampaui puncak sebelumnya di bulan Juli akibat gejolak tarif era Presiden Donald Trump, kini didorong oleh kombinasi permintaan yang kokoh dan pasokan yang kian menipis, dengan insiden di tambang Grasberg, Indonesia, menjadi salah satu faktor pemicu utama.

COLLABMEDIANET
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Kontrak berjangka tembaga untuk pengiriman Januari ditutup pada level US$5,9245 per pon di New York, setara dengan sekitar Rp93.015. Kenaikan ini merupakan kelanjutan dari tren positif, di mana harga tembaga telah melonjak signifikan sebesar 41% sepanjang tahun 2025 dan kembali menguat 5,2% di awal tahun 2026.

Reli harga kali ini terjadi setelah pasar berhasil pulih dari tekanan tajam yang sempat melanda di pertengahan tahun lalu. Kala itu, keputusan Presiden Trump untuk memberlakukan tarif pada produk tembaga olahan, bukan bahan mentahnya, sempat memicu gejolak. Kebijakan tersebut membuat harga kontrak berjangka anjlok hingga 22% dalam sehari, setelah spekulasi pasar mendorong penimbunan tembaga di gudang.

Meskipun bayang-bayang kebijakan tarif masih menjadi variabel yang diperhitungkan, lonjakan harga tembaga saat ini utamanya dipicu oleh fundamental pasar yang kuat: permintaan yang solid berhadapan dengan pasokan yang sangat terbatas. Permintaan masif datang dari sektor-sektor vital seperti pembangunan pusat data yang terus ekspansif, peningkatan jaringan listrik untuk mendukung transisi energi, produksi kendaraan listrik (EV) yang melonjak, serta berbagai proyek energi terbarukan. Permintaan dari sektor-sektor ini berhasil mengkompensasi potensi pelemahan dari sektor manufaktur siklikal dan konstruksi.

Dari sisi pasokan, tantangan ketersediaan tembaga semakin akut. Pertumbuhan produksi komoditas ini sangat terbatas mengingat siklus penemuan hingga operasional tambang baru membutuhkan waktu puluhan tahun. Lebih lanjut, reli harga tembaga juga mendapat dorongan signifikan sejak September lalu menyusul insiden longsor mematikan di tambang Grasberg milik Freeport-McMoRan di Indonesia. Peristiwa tragis ini sempat menghentikan operasional tambang tembaga terbesar kedua di dunia, menciptakan kekhawatiran serius akan pasokan global.

Konsensus analis di Wall Street mengindikasikan bahwa kondisi fundamental ini tidak akan banyak berubah dalam waktu dekat. Meskipun beberapa analis memproyeksikan potensi pelemahan permintaan dari Tiongkok dapat menekan harga pada tahun 2026, prospek jangka panjang tembaga tetap menunjukkan tren kenaikan yang kuat, mendorong investasi masif di sektor pertambangan dan pengolahan. Goldman Sachs, salah satu bank investasi terkemuka, bahkan memperkirakan harga tembaga dapat menyentuh US$15.000 per metrik ton di London dalam satu dekade mendatang, atau setara hampir US$7 per pon. Proyeksi ini didasari oleh kebutuhan strategis tembaga untuk sektor-sektor krusial seperti kecerdasan buatan (AI), pengembangan jaringan listrik modern, dan industri pertahanan, yang akan menjaga harga tetap tinggi meskipun laju pertumbuhan ekonomi global melambat.

Menyadari urgensi tembaga, Pemerintah Amerika Serikat telah secara resmi memasukkan komoditas ini ke dalam daftar mineral kritis yang vital bagi keamanan nasional dan perekonomian. Langkah strategis ini membuka pintu bagi berbagai insentif, mulai dari keringanan pajak, investasi langsung pemerintah, hingga potensi penerapan tarif tambahan yang dapat mendorong harga domestik AS lebih tinggi dibandingkan pasar global.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar